PENGERTIAN, DAN SALAH SATU CONTOH BUDAYA DI INDONESIA
Syaiful Herpian Abdullah
UNIVERSITAS GUNADARMA
Ahmad Nasher
Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok, dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya itu sendiri terbentuk dari beberapa kumpulan
unsur yang amat rumit, termasuk aagama dan politik, adat istiadat,
bahasa perkakas, bangunan dan pakaian dan juga karya seni.bahasa,
sebagaimana juga merupakan bagian dari budaya yang merupakan bagian tak
terpisahkan dari diri
manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang
berbeda budaya, dan orang tersebut menyesuaikan budaya yang berbeda,
membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks,
abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku
komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak
kegiatan sosial manusia.
Kebudayaan Daerah Istimewa Yoyakarta
1. Rumah Adat
Rumah adat Daerah Istimewa Yogyakarta dinamakan Bangsal Kencono Kraton Yogyakarta merupakan sebuah bangunan Pendopo. Halamannya sangat luas, ditumbuhi tanaman dan dilengkapi beberapa sangkar burung. Di depan Bangsal Kencono terdapat dua patung dari Gupolo, sang raksasa yang memegang gada (sejenis alat pemukul).
6. Bahasa Daerah: Jawa
7. Budaya Adat DIYogyakarta
1.UPACARA SEKATEN
Menurut sejarahnya, perayan Sekatan bermula sejak zaman kerajaan islam Demak.Meski sebelumnya,ketika jaman pemerintahan Rajan Hayam Wuruk diMajapahit, perayaan semacam Sekaten yang disebut “SRDAAGUNG” itu suda ada.Perayaan ang menjadi tradisi kerajaan Majapahit tersebut,berupa persembahan sesaji kepada para dewa,disertai dengan mantra-mantra, sekaligus untuk menghormati arwah para leluhur.
Pendapat lainya menyatakan bahwa,kata SEKATEN,berasal dari bahasa Arab,yaitu SYSHADATAIN,yang berarti dua Syahadat atau kesaksian.Duasyahadat itu ialah:
1.SYAHADAT AUHID
2.SYAHADAT RASUL
2. UPACARA GAREBEG
Garebeg adalah upacara adat Kraton Yogyakarta yang diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun untuk memperingati hari besar Islam. Mengenai Istilah Garebeg,ini berasal dari bahasa Jawa “Grebeg”, yang berarti “Di iringi para pengikut”. Pengertian lain mengatakan bahwa Gunungan itu di perebutkan warga masyarakat ang berarti di Grebeg atau Garebeg.
Pelaksanaan upacara Tersebut bertepatan dengan hari-hari besar Islam seperti :
Garebeg SYAWAL
Garebeg Besar
Garebeg Maulud
3.UPACARALABUHAN
Yang dimaksud Upacara Labuhan (Laut),yaittu upacara melempar sesaji dan benda-benda Kraton kelaut untuk di persembahkan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Upacara tradisional Labuhan bermula sejak jaman Panembahan Senopati di mataram Kotagede.Upacara tersebut sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilanya dalam memimpin Kerajaan Mataram Kota gede,yang masih tetap dilestarikan oleh para raja-raja Kesultanan Yogyakarta.
Adapun Upacara Labuhan ini ada tiga jenis,yaitu :
Labuhan ageng
Labuhan Tengahan
Labuhan Alit.
Rumah adat Daerah Istimewa Yogyakarta dinamakan Bangsal Kencono Kraton Yogyakarta merupakan sebuah bangunan Pendopo. Halamannya sangat luas, ditumbuhi tanaman dan dilengkapi beberapa sangkar burung. Di depan Bangsal Kencono terdapat dua patung dari Gupolo, sang raksasa yang memegang gada (sejenis alat pemukul).
2. Pakaian Adat
Pria Yogyakarta memakai pakaian adat berupa tutup kepala (destar), baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang bagian belakang. Ia juga mengenakan kain batik yang bercorak sama dengan sang wanita.
Sedangkan wanitanya memakai kebaya dan kain batik. Perhiasannya berupa anting-anting, kalung, dan cincin.
3. Tari-tarian Daerah Istimewa Yogyakarta
a. Tari Serimpi Sangupati, sebuah tarian keraton pada masa lalu disertai suara gamelan dengan gerak tari yang lembut dan menawan hati.
b. Tari Bedaya, merupakan tarian keraton yang ditarikan oleh 9 putri dengan irama yang lemah gemulai dan lembut.
c. Tari Beksan Nirbaya, diilhami bentuk kesenian "Edan-edanan" salah satu bagian dari upacara keraton Yogya yang berfungsi sebagai "penolak bala". Bentuk ini diangkat menjadi seni pertunjukan, yang mendapat stilirasi , tanpa meninggalkan esensi dan karakter geraknya yang unik.
d. Tari Merak, suatu tari yang mengisahkan keindahan dan kebebasan alam bebas yang dialami burung merak.
e. Tari Beksan Lawung Ageng, suatu tari yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, sebagai sarana untuk memupuk semangat para jiwa prajurit.
Pria Yogyakarta memakai pakaian adat berupa tutup kepala (destar), baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang bagian belakang. Ia juga mengenakan kain batik yang bercorak sama dengan sang wanita.
Sedangkan wanitanya memakai kebaya dan kain batik. Perhiasannya berupa anting-anting, kalung, dan cincin.
3. Tari-tarian Daerah Istimewa Yogyakarta
a. Tari Serimpi Sangupati, sebuah tarian keraton pada masa lalu disertai suara gamelan dengan gerak tari yang lembut dan menawan hati.
b. Tari Bedaya, merupakan tarian keraton yang ditarikan oleh 9 putri dengan irama yang lemah gemulai dan lembut.
c. Tari Beksan Nirbaya, diilhami bentuk kesenian "Edan-edanan" salah satu bagian dari upacara keraton Yogya yang berfungsi sebagai "penolak bala". Bentuk ini diangkat menjadi seni pertunjukan, yang mendapat stilirasi , tanpa meninggalkan esensi dan karakter geraknya yang unik.
d. Tari Merak, suatu tari yang mengisahkan keindahan dan kebebasan alam bebas yang dialami burung merak.
e. Tari Beksan Lawung Ageng, suatu tari yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, sebagai sarana untuk memupuk semangat para jiwa prajurit.
![]() |
| Tari Serimpi Sangupati |
4. Senjata Tradisional
Di Yogyakarta pun kerus merupakan senjata tradisional yang paling terkenal. Keris-keris itu diberi pula gelar-gelar kehormatan seperti "Kanjeng Kyai Kpek" dan sebagainya.
Selain keris terdapat pula tombak sebagai benda pusaka. Benda-benda itu sangat dihormati dan diberi gelar kehormatan. Antara lain "Kajeng Kyai Ageng Plered", Kanjeng Kyai Ageng Baru", "Kanjeng Kyai Gadapan" dan "Kanjeng Ageng Megatruh".
"Kyai Plered" mempunyai sejarah tersendiri, karena Untung Suropati berhasil menewaskan opsir Belanda Kapten Tack dengan menggunakan "Kyai Plered" Oleh karena itu, tombak ini dianggap keramat.
Ada pula tombak dan keris yang disebut Tosan Aji. Tosan artinya besi dan Aji artinya dihormati karena bertuah. Benda-benda ini biasanya dirawat baik-baik dan disimpan pada tempat-tempat khusus. Pada saat-saat tertentu benda-benda itu dibersihkan dan dimandikan.
Di Yogyakarta pun kerus merupakan senjata tradisional yang paling terkenal. Keris-keris itu diberi pula gelar-gelar kehormatan seperti "Kanjeng Kyai Kpek" dan sebagainya.
Selain keris terdapat pula tombak sebagai benda pusaka. Benda-benda itu sangat dihormati dan diberi gelar kehormatan. Antara lain "Kajeng Kyai Ageng Plered", Kanjeng Kyai Ageng Baru", "Kanjeng Kyai Gadapan" dan "Kanjeng Ageng Megatruh".
"Kyai Plered" mempunyai sejarah tersendiri, karena Untung Suropati berhasil menewaskan opsir Belanda Kapten Tack dengan menggunakan "Kyai Plered" Oleh karena itu, tombak ini dianggap keramat.
Ada pula tombak dan keris yang disebut Tosan Aji. Tosan artinya besi dan Aji artinya dihormati karena bertuah. Benda-benda ini biasanya dirawat baik-baik dan disimpan pada tempat-tempat khusus. Pada saat-saat tertentu benda-benda itu dibersihkan dan dimandikan.
![]() |
| Keris Yogyakarta |
5. Suku: Jawa
6. Bahasa Daerah: Jawa
7. Budaya Adat DIYogyakarta
1.UPACARA SEKATEN
Menurut sejarahnya, perayan Sekatan bermula sejak zaman kerajaan islam Demak.Meski sebelumnya,ketika jaman pemerintahan Rajan Hayam Wuruk diMajapahit, perayaan semacam Sekaten yang disebut “SRDAAGUNG” itu suda ada.Perayaan ang menjadi tradisi kerajaan Majapahit tersebut,berupa persembahan sesaji kepada para dewa,disertai dengan mantra-mantra, sekaligus untuk menghormati arwah para leluhur.
Pendapat lainya menyatakan bahwa,kata SEKATEN,berasal dari bahasa Arab,yaitu SYSHADATAIN,yang berarti dua Syahadat atau kesaksian.Duasyahadat itu ialah:
1.SYAHADAT AUHID
2.SYAHADAT RASUL
2. UPACARA GAREBEG
Garebeg adalah upacara adat Kraton Yogyakarta yang diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun untuk memperingati hari besar Islam. Mengenai Istilah Garebeg,ini berasal dari bahasa Jawa “Grebeg”, yang berarti “Di iringi para pengikut”. Pengertian lain mengatakan bahwa Gunungan itu di perebutkan warga masyarakat ang berarti di Grebeg atau Garebeg.
Pelaksanaan upacara Tersebut bertepatan dengan hari-hari besar Islam seperti :
Garebeg SYAWAL
Garebeg Besar
Garebeg Maulud
3.UPACARALABUHAN
Yang dimaksud Upacara Labuhan (Laut),yaittu upacara melempar sesaji dan benda-benda Kraton kelaut untuk di persembahkan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Upacara tradisional Labuhan bermula sejak jaman Panembahan Senopati di mataram Kotagede.Upacara tersebut sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilanya dalam memimpin Kerajaan Mataram Kota gede,yang masih tetap dilestarikan oleh para raja-raja Kesultanan Yogyakarta.
Adapun Upacara Labuhan ini ada tiga jenis,yaitu :
Labuhan ageng
Labuhan Tengahan
Labuhan Alit.
Kesimpulan :
Jadi setiap daerah memiliki budayanya sendiri atau ciri khasnya teresendiri, dan kita sebagai mahluk bermoral harus menghargai dan menyesuaikan dengan setiap budaya yang ada. sesuai dengan pribahasa 'Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung' yang berarti kita harus menghormati budaya dimana kita berada. Dan kita sebagai generasi penerus bangsa juga harus bisa melestarikan budaya daerah kita sendiri, karna bisa saja budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita hilang ditelan jaman atau bahkan diakui oleh negara lain.
Sumber :
http://pulisme.blogspot.co.id/2016_10_01_archive.html
http://www.kebudayaanindonesia.com/2013/06/daerah-istimewa-yogyakarta.html
http://www.kebudayaanindonesia.com/2013/06/daerah-istimewa-yogyakarta.html








Tidak ada komentar:
Posting Komentar